Peran Hutan Mangrove sebagai Blue Carbon dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Di Post Admin August,07,2018



Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Dalam kebijakan lingkungan, perubahan iklim merujuk pada perubahan iklim modern. Perubahan ini dapat dikelompokkan sebagai perubahan iklim antropogenik atau lebih dikenal sebagai pemanasan global (id.wikipedia.org). Pemanasan global disebabkan oleh adanya peningkatan emisi gas rumah kaca yang dapat memerangkap panas.

Pada tahun 2009, dalam pertemuan G-20 di Pittsburg, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi sebesar 26% dengan menggunakan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2020 dari kondisi tanpa adanya rencana aksi (Business as Usual /BAU). Komitmen tersebut dikenal dengan istilah Intended Nationally Determined Contribution (INDC). Pada tanggal 24 September 2015, Pemerintah Indonesia mengirimkan INDC sebagai salah satu langkah menuju COP 21 di Paris, dimana dalam dokumen ini Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK sebesar 29% melalui usaha sendiri pada tahun 2030.

Mitigasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan mengendalikan emisi CO2 agar tetap berada pada kisaran neraca karbon dan melestarikan ekosistem untuk penyerapan karbon. Penyerapan karbon dilakukan oleh vegetasi melalui proses fotosintesis, dimana CO2 diserap dan diubah menjadi karbon organik yang disimpan dalam bentuk biomassa. Terdapat dua istilah pada karbon, yaitu green carbon dan blue carbon. Green carbon merupakan kandungan karbon yang dimiliki oleh vegetasi darat seperti hutan, rumput, belukar dan jenis vegetasi berklorofil lainnya. Sedangkan blue carbon (karbon biru) merupakan karbon yang tersimpan, terserap, atau terlepas dari vegetasi dan sedimen ekosistem pesisir, yaitu ekosistem mangrove, padang lamun dan rawa pasang surut (conservation.org). Menurut Kawaroe, dalam Muhammad Hafizt, 2011, lautan sebagai blue carbon sink dapat menyerap karbon di atmosfer lebih tinggi daripada darat, dan memiliki kemampuan dalam menyimpan karbon hingga jutaan tahun melebihi hutan tropis di daratan.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi sumberdaya alam pesisir melimpah, salah satunya adalah hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh di air payau, dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh di 124 negara tropik dan subtropik dengan luasan di dunia sekitar 15,2 juta hektar. Indonesia mewakili 48% luasan hutan mangrove di dunia Bersama Brasil, Nigeria dan Meksiko (mongabay.co.id).  Sebagai rumah dari 25% hutan mangrove di dunia dengan luas mencapai  3,5 juta hektar (berdasarkan data one map mangrove), Indonesia berusaha memanfaatkan ekosistem mangrove dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Ekosistem mangrove tersebut berada di 257 kabupaten/kota. Data dari Balai Riset dan Observasi Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan 43 jenis dari 70 jenis mangrove di dunia ada di Indonesia. Hutan mangrove Indonesia menyimpan lima kali karbon lebih banyak per hektar jika dibandingkan hutan tropis dataran tinggi (CIFOR). Mangrove Indonesia menyimpan 3,14 miliar metrik karbon (PgC). Bagian bawah ekosistem menyimpan karbon 78% di dalam tanah, 20% karbon di pohon hidup, akar atau biomassa, dan 2% di pohon mati/tumbang. Namun sayangnya setiap tahun 52.000 ha hutan mangrove di Indonesia hilang. Menurut CIFOR, dalam 3 dekade terakhir 40% hutan mangrove Indonesia rusak, terutama karena budidaya perikanan.

Hutan mangrove saat ini terus didorong untuk menjadi salah satu bagian agenda dalam adaptasi perubahan iklim. Pada tahun 2015 didirikan sebuah Kemitraan Internasional untuk Karbon Biru (International Partnership for Blue Carbon/IPBC), dan pada tahun 2016 ekosistem lautan dan pesisir untuk pertama kalinya ditambahkan dalam agenda perundingan iklim global pada COP22. Di Indonesia sendiri telah diselenggarakan Blue Carbon Summit oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Bersama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) pada tanggal 17-18 Juli 2018 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat. Salah satu tujuan dari acara ini adalah untuk mengarahkan pengembangan karbon biru di Indonesia, sejalan dengan akan diadakannya COP24 di Polandia bulan Desember 2018 mendatang. Kegiatan yang dapat dilakukan di hutan mangrove dalam rangka mitigasi perubahan iklim antara lain rehabilitasi mangrove, pencegahan perubahan fungsi lahan melalui kebijakan konservasi dan rencana zonasi, penambahan atau perluasan area  mangrove serta sosialisasi masyarakat terkait mangrove dan perubahan iklim. Dengan semakin diperhatikannya hutan mangrove sebagai blue carbon diharapkan target nasional dan global tentang perubahan iklim dapat terpenuhi.

Di Yogyakarta sendiri kawasan hutan mangrove luasnya masih relative sempit. Menurut data Dislautkan DIY, Kawasan mangrove DIY terletak di Pantai Baros Kabupaten Bantul seluas 8 Ha (telah dicadangkan dengan SK Bupati Bantul No 284 Tahun 2014 seluas 132 Ha) dan di Kawasan Konservasi Mangrove di Pasirmendit, Jangkaran, Temon, Kulon Progo seluas 9 Ha. Kedua kawasan tersebut dikembangkan sebagai ekoturisme. Sedangkan, Kawasan Konservasi Baros telah dikelola sebagai kawasan edu-ekoturisme dengan memasukkan unsur pendidikan dalam pengembangan mangrove. Unsur pendidikan pemanfaatan kawasan mangrove sebagai arena belajar baik pelajar, mahasiswa ataupun masyarakat umum mulai dari pembibitan mangrove, fungsi mangrove sampai pengenalan ekologi muara sungai. Pengelolaan kawasan konservasi mangrove sebagai kawasan ekoturisme dengan melibatkan masyarakat sekitar diharapkan timbul kesadaran masyarakat untuk dapat menjaga kelestarian mangrove itu sendiri tanpa mengesampingkan kondisi sosial perekonomian masyarakat sekitar.


Diharapkan kawasan mangrove di Yogyakarta dapat menjadi salah satu bagian dalam aksi mitigasi perubahan iklim bukan menjadi kawasan usaha ekonomi lain penyumbang emisi penyebab perubahan iklim. (Asih N.A.)


*dokumentasi oleh : Keluarga Pemuda Pemudi Baros